Jumat, 20 Januari 2012

Kemurnian fisik benih


ANALISIS KEMURNIAN FISIK BENIH
(Oleh : Abdul Muhid)



LEMBAR INFORMASI


TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM
Siswa mampu melakukan analisis kemurnian benih bila disediakan contoh benih yang akan dianalisis serta peralatan analisis kemurnian yang memadai.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS
Setelah mempelajari modul ini siswa dapat :
  • Mengidentifikasi komponen yang dianalisis
  • Menerapkan prosedur analisis kemurnian.




URAIAN MATERI

1.       Pengertian

Analisis kemurnian benih di laboratorium adalah memisahkan contoh benih menjadi 3 (tiga) komponen yaitu komponen benioh murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih, yang selanjutnya ketiga komponen benih tersebut dipersentasekan berdasarkan beratnya.

Analisis kemurnian benih dilakukan yang pertama kali, setelah itu baru benih murni yang diperoleh dapat ditetapkan kadar airnya dan diuji daya berkecambahnya.  Hal ini dilakukan karena nilai kadar air dan daya berkecambah yang ingin diperoleh adalah nilai kadar air dan daya  berkecambah dari benih murni bukan dari benih campuran.


2.       Tujuan Analisis Kemurnian Benih

Adapun tujuan dari analisis kemurnian benih adalah untuk :
  • Melindungi konsumen
  • Mengetahui komposisi benih dalam lot
  • Mengetahui macam species / varietas lain yang tercampur dalam lot benih
  • Mengetahui macam kotoran dalam benih.


3.       Komponen yang Dianalisis

Komponen yang dianalisis adalah komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih.  Benih tanaman lain dapat terdiri dari benih spcies lain, benih varietas lain, dan biji gulma.  Sedangkan kotoran benih dapat berupa tanah, pasir, kerikil, dan potongan dari bagian tanaman.  Kotoran benih tercampur dalam benih murni pada saat perontokan, prosesing, dan pengemasan.


a.       Benih Murni

Salah satu komponen yang dipisahkan dalam analisis kemurnian benih adalah benih murni.  Untuk dapat memisahkan benih murni dari komponen lain maka harus diketahui apa yang dimaksud / diketegorikan dengan benih murni.

Yang dimaksud dengan benih murni adalah benih yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau benih yang secara dominant ditemukan dalam contoh benih.  Berikut adalah benih yang dikategorikan sebagai benih murni :
  • Benih utuh
  • Benih muda
  • Benih berukuran kecil
  • Benih mengkerut dan benih yang sedikit rusak
  • Benih yang terserang hama / penyakit tetapi masih bias dikenali sebagai benih yang dimaksud
  • Benih yang sudah berkecambah tetapi masih bias dikenali sebagai benih yang dimaksud
  • Pecahan benih yang ukurannya lebih besar dari setengah ukuran benih normal dan masih bias dikenali.



b.      Benih Tanaman Lain

Untuk dapat mengetahui persentase campuran biji lain yang terdapat dalam suatu kelompok benih maka keberadaan biji lain perlu dipisahkan dan dihitung persentasenya.  Agar dapat memisahkan biji lain maka harus dipahami dulu apa saja yang dikategorikan sebagai biji lain dalam sekelompok benih.  Berikut ini adalah criteria dari biji lain :
  • Biji dari species / varietas lain
  • Biji gulma



c.       Kotoran Benih

Yang dimaksud dengan kotoran benih adalah meliputi benih dan bagian dari benih, serta bahan-bahan lain yang bukan bagian dari benih.

1)       Benih dan Bagian Benih
  • Benih yang terlihat jelas bukan benih sejati.
  • Benih Leguminoceae, Crussiferae, Taxaceae, Taxodiacea, Cupressaceae, Pinoceae dengan kulit benih yang telah terkelupas.
  • Pecahan benih dengan ukuran setengah atau kurang dari setengah ukuran normal.
  • Benih Cuscuta yang telah berubah warna dari abu-abu menjadi putih kecoklatan.
  • Benih rusak tanpa lembaga.
  • Gabah hampa.
  • Sekam, cangkang benih, kulit benih, dll.

2)       Bahan lain yang bukan merupakan bagian dari benih seperti tanah, pasir, kerikil, batu potongan ranting, jerami, daun, tangkai bunga, kulit buah, dll.


d.      Peralatan Analisis Kemurnian

  • Pembagi mekanik
  • Sendok
  • Pinset
  • Spatula
  • Kuas kecil
  • Meja kerja kemurnian
  • Kaca pembesar
  • Timbangan analisis
  • Kursi analisis
  • Koleksi Benih
  • Rak atau lemari.


e.       Pengambilan Contoh Kerja

Contoh kerja kemurnian doambil dari contoh kirim dengan menggunakan alat pembagi benih.  Jika akan akan dilakukan analisa simplo maka pengambilan contoh kerja hanya dilakukan satu kali, tetapi jika akan dilakukan analisa duplo maka pengambilan contoh kerja dilakukan 2 kali setengah berat contoh kerja.

Berikut adalah bereat minimum contoh kerja untuk analisis kemurnian fisik pada berbagai jenis benih.

NO
KOMODITAS
BERAT CONTOH KERJA (GRAM)
1.
Jagung
900
2.
Kacang tanah
1000
3.
Kacang hijau
120
4.
Bayam
2
5.
Sawi
4
6.
Cabe besar
15
7.
Cabe rawit
15
8.
Semangka
250
9.
Mentimun
70
10.
Kangkung
100
11.
Terong
15
12.
Tomat
7
13.
Kacang panjang
500
14.
Seledri
1
15.
Kool
10
16.
Petsai
7
17.
Buncis
700
18.
Padi
40
19.
Kedelai
500
20.
Tembakau
0,5
21.
Oyong (gambas)
400
22.
Wortel
3
23.
Waluh
180
*) berat contoh kerja setara dengan jumlah 2500 butir benih.
f.        Penimbangan Contoh Kerja

Penimbangan contoh kerja dilakukan dengan timbangan analitis yang mempunyai kepekaan 3 – 4 desimal dalam satuan gram, dan sebaiknya digunakan timbangan dengan tipe pembacaan langsung.  Penimbangan harus dilakukan dengan  prosedur yang benar sesuai dengan spesifikasi timbangan yang digunakan agsar diperoleh hasil penimbangan yang akurat.  Berikut adalah contoh jumlah decimal pada penimbangan contoh kerja untuk analisis kemurnian.
BERAT CONTOK KERJA (GRAM)
DECIMAL PENIMBANGAN
CONTOH (GRAM)
< 1
4
0,8036
1,000 – 9,999
3
8,036
10,00 – 99,99
2
80,36
100,0 – 999,9
1
803,6
>  1000
0
8036









g.      Cara Melakukan Analisis Kemurnian

Contoh kerja untuk analisis kemurnian diambil dari contoh kirim dan ditimbang mernggunakan timbangan analitis denga  berat sesuai dengan jenis benihnya dan berdasarkan ketentuan yang berlaku.  Hasil penimbangan dicatat sebagai berat contoh kerja awal.  Setelah ditimbang kemudian contoh kerja tersebut disebat di meja kerja kemurnian.  Pada meja kerja kemurnian tersebut setiap benih diamati dan diidentifikasi satu persatu secara visual berdasarkan kenampakan morfologinya (bentuk, ukuran, warna, dsb.).  Identifikasi tersebut dapat menggunakan pinset / penggaris kecil / batang besi / kuas kecil.  Dari hasil identifikasi tersebut, contoh kerja dikelompokkan menjadi tiga komponen yaitu benih murni, benih lain, dan kotoran benih.  Kemudian setiap komponen benih tersebut ditimbang satu persatu dalam satuan gram dengan tingkat ketelitian yang sama dengan penimbangan contoh kerja awal.  Bila terdapat kehilangan berat llebih besar dari 5% dari berat contoh kerja maka harus dilakukan pengulangan analisis kemurnian.  Masing-masing komponen dihitung persentasenya dalam satu decimal dan dijumlahkan, jumlah total ketiga komponen harus 100 %.  Bila jumlah tersebut tidak 100 % maka harus dilakukan pengurangan pada persentase tertinggi atau penambahan pada persentase terendah.


Rumus perhitungan hasil analisis kemurnian

                                                BM
            % BM   =          _________________                  X          100%
                                    BM + BTL + KB

                                                BTL
            % BTL  =          _________________                  X          100%
                                    BM + BTL + KB

                                                KB
            % KB    =          _________________                  X          100%
                                    BM + BTL + KB


Faktor kehilangan / penambahan yang diperbolehkan maksimal 5 % dihitung dengan rumus :

                                    CK – (BM + BTL + KB)
                                    ____________________ X          100%    5%
                                                CK
Keterangan :
BM       =  Benih Murni
BTL      =  Benih Tanaman Lain
KB        =  Kotoran Benih
CK       =  Contoh Kerja

uji daya berkecambah


PENGUJIAN DAYA BERKECAMBAH BENIH
(Oleh :  Abdul Muhid)


LEMBAR INFORMASI

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM

Siswa mampu menguji daya berkecambah benih bila disediakan alat dan bahan pengujian daya berkecambah.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS
Setelah mempelajari modul ini siswa dapat :
·         Menentukan metode uji,
·         Menyiapkan tempat / media perkecambahan,
·         Menyiapkan benih,
·         Menghitung daya berkecambah.


URAIAN MATERI

1.      Tujuan Pengujian Daya Berkecambah Benih

Pengujian daya berkecambah benih bertujuan untuk :
·         Untuk memperoleh informasi nilai penanaman benih
·         Untuk membandingkan kualitas benih antar seed lot
·         Untuk menduga storabilitas benih
·         Untuk menentukan apakah nilai daya berkecambah memenuhi peraturan yang berlaku.

Untuk kebutuhan usaha tani, benih merupakan masukan utama yang tidak dapat diganti dengan masukan lain.  Nilai penanaman yang dimaksudkan adalah jumlah kecambah yang dapat tumbuh ke permukaan tanah.  Informasi ini penting untuk menghitung kebutuhan benih per satuan luas lahan.  Dengan mengetahui persentase daya berkecambah, berat 100 butir, jarak tanam, jumlah benih per lubang tanam, dan luas lahan yang akan ditanami, maka dapat dihitung jumlah benih yang dibutuhkan untuk usaha tani.

Persentase daya berkecambah benih adalah salah satu criteria yang digunakan untuk menilai kualitas suatu seed lot.  Bila ada beberapa seed lot, maka kualitas antar seed lot dapat dibandingkan melalui nilai perkecambahan.  Semakin tinggi nilai perkecambahan semakin baik kual;itas benih suatu seed lot.  Dari beberapa seed lot yang dimiliki maka yang digunakan lebih dulu adalah seed lot yang memiliki persentase daya berkecambah yang paling rendah, sedangkan seed lot yang memiliki daya berkecambah lebih tinggi digunakan pada m usim tanam berikutnya karena memiliki storabilitas yang lebih lama.

Tidak semua benih yang telah dijhasilkan dapat langsung habis digunakan untuk usaha tani, sebagian benih masih harus disimpan pada musim tanam berikutnya.  Selama dalam proses penyimpanan ini benih akan menurun kualitasnya yang ditandai dengan menurunnya daya berkecambah benih.  Semakin tinggi nilai daya berkecambah pada awal penyimpanan maka storabilitas benih akan semakin panjang bila factor-faktor yang mendukung penyimpanan dipenuhi.

Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu benih dapat diberi sertifikat adalah nilai daya berkecambah yang sama atau lebih tinggi dari ketentuan yang berlaku, oleh karena itu bila nilai daya berkecambah berada di bawah standar yang berlaku maka benih tidak akan diberi sertifikat.

2.      Metode Pengujian Daya Berkecambah

Ada beberapa metode pengujian daya berkecambah yang dapat dilakukan yaitu :
·         Uji pada kertas (TPT / Top of Paper Test)
·         Uji antar kertas (BPT / Between of Paper Test)
·         Uji dalam pasir (Sand Test)
·         Uji viabilitas dengan 2,3,5 Trifenil tetrazolium (TZ).

a.      Uji Pada Kertas (TPT / Top of Paper Test)

Uji pada kertas dilakukan dengan menggunakan substrat kertas merang, kertas stensil, dan kertas tissue yang telah disterilkan dan diatur dalam wadah perkecambahan.  Benih diatur di atas kertas tersebut, kemudian dilembabkan secukupnya dan disimpan dalam ruang perkecambahan yang diberi sinar lampu.




b.      Uji Antar Kertas (BPT / Between of Paper Test)

Uji antar kertas dilakukan dengan menggunakan substrat kertas merang dan kertas stensil yang diberi alas plastic dan semua bahan tersebut telah disterilkan.  Lapisan kertas merang dan kertas stensil yang telah dilembabkan dengan air diletakkan di atas lembaran plastic, kemudian benih diatur di atas kertas lembab tersebut, bagian sampng dilipat sedikit lalu digulung dengan padat dan bagian ujung gulungan dilengketkan dengan kertas label yang telah ditulisi identitas benih yang diuji.  Gulungan kertas tersebut diletakkan pada germinator dengan posisi berdiri dimana germinator tersebut telah diletakkan dalam ruang perkecambahan.

c.       Uji Dalam Pasir (Sand Test)

Uji dalam pasir dilakukan dengan substrat pasir steril yang telah diayak dengan ayakan pasir.  Pasir tersebuit dimasukkan dalam bak perkecambahan plastic sebanyak ¾ bagian wadah kemudian dilembabkan dengan air, diratakan, dan dibuat lubang tanam.  Benih disemai dalam lubang dan ditutup dengan pasir, dan dilembabkan lagi.

d.      Uji Viabilitas dengan 2,3,5 Trifenil tetrazolium (TZ)

Pada uji TZ ini digunakan garam 2,3,5 Trifenil tetrazolium dengan konsentrasi 1 % yang dibuat dengan cara melarutkan  1 gram TZ ke dalam aquades.  Sebelum diperlakukan dengan TZ, benih harus diberi perlakuan pendahuluan yaitu direndam dalam air dulu, setelah agak lunak kemudian benih ditusuk atau diiris sesuai jenis benihnya.  Kemudian benih direndam dalam larutan TZ yang telah disiapkan dengan konsentrasi  1 %, kemudian pewarnaan yang terjadi diamati.  Benih yang viable embrionya akan berwarna merah cemerlang.

3.      Penentuan Metode Pengujian Daya Berkecambah

Penentuan metode pengujian daya berkecambah dapat dilakukan dengan mempertimbangkan besar kecilnya benih dan atau fasilitas yang dimiliki.  Untuk menguji daya berkecambah pada benih kecil (cabe, tomat, terong, bayam, sawi, dsb) dapat dilakukan dengan metode TPT dan atau metode sand test.  Sedangkan untuk menguji daya berkecambah pada benih besar (semangka, timun, padi, melon, buncis, paria, kacang panjang, dsb) dapat dilakukan dengan metode BPT dan atau Sand test.  Metode TPT dan BPT pelaksanaannya di dalam laboratorium, sedangkan metode sand test pelaksanaannya di dalam shading house.  Bila kedua fasilitas tersebut (laboratorium dan shading house) telah dimiliki maka pengujian di laboratorium maupun di shading house dapat dilaksanakan karena kedua-keduanya dapat digunakan untuk pengujian benih besar maupun benih kecil.  Bila hanya ada salah satu fasilitas maka dipilih sesuai dengan fasilitas yang dimiliki.


4.      Penyiapan Tempat Pengujian

Uji TPT, BPT, dan TZ dilaksanakan di laboratorium pengujian benih, oleh karena itu laboratorium dan segala fasilitasnya harus disiapkan dalam kondisi yang memadai.
Berikut ini adalah persyaratan laboratorium pengujian benih :
·         Lokasi ban gunan mudah dijangkau oleh produsen maupun konsumen.
·         Bangunan menghadap utara-selatan dan terletak minimal 10 m dari jalan raya.
·         Luas dan desain bangunan disesuaikan dengan kapasitas uji dan macam pengujian yang dilakukan.
·         Kemiringan atap 15 – 45 derajad.
·         Jendela dibuat dari kaca yang dapat dibuka tutup sehingga ventilasi cukup baik.
·         Bagi daerah dengan suhu sekitar 35 ⁰C hendaknya dilengkapi dengan AC agar suhu tidak tinggi dan RH-nya rendah yaitu kurang dari 60 %.
·         Dilengkapi dengan penerangan lampu dan tidak mengandalkan sinar matahari.
·         Dilengkapi dengan tenaga listrik yang memadai.
·         Dilengkapi dengan saluran air bersih yang siap mengalir setiap saat.

Sedangkan peralatan yang diperlukan di laboratorium untuk pengujian daya berkecambah benih adalah rak perkecambahan yang dilengkapi dengan lampu TL, germinator, bak perkecambahan dari plastic, sprayer plastic kapasitas 500 ml atau 1000 ml, alat press kertas, pinset, lubang perkecambahan, hand counter.  Alat-alat tersebut sebelum digunakan harus dicek dulu apakah sudah dalam kondisi bersih / steril dan apakah masih berfungsi dengan baik, dan apakah sudah berada pada tempat yang sesuai.  Apabila belum maka harus dikondisikan dulu yaitu dibersihkan dan atau disterilkan, diperbaiki bila ada yang tidak berfungsi, dan diletakkan pada tempat yang layak.

Uji sand test dapat dilaksanakan di shading house.  Adapun kerangka shading house tergantung dari kemampuan dapat dibuat dari besi atau bamboo, sedangkan atapnya terdiri dari dua bagian yaitu plastic bening di bagian luar dan paranet di bagian dalamnya, dan bagian dinding dari bahan paranet juga.  Tujuan peggunaan paranet untuk mengatur intensitas matahari agar tidak terlalu tinggi.  Shading house dilengkapi dengan saluran air bersih yang siap mengalir setiap saat.  Sedangkan peralatan yang harus ada adalah steam boiler, ayakan pasir, saringan pasir, alat pelubang tanam, shower, pinset, bak perkecambahan, dan papan kayu yang ukurannya lebih besar dari bak perkecambahan, bilah bamboo untuk meratakan substrat pasir.  Shading house mapun peralatan tersebut sebelum digunakan harus dicek dahulu apakah sudah dalam keadaan bersih, apakah masih berfungsi dengan baik, apakah sudah berada pada tempat yang sesuai.


5.      Penyiapan Substrat Uji Kertas (TPT dan BPT)

Substrat yang digunakan dalam uji TPT dan BPT adalah kertas merang, kertas stensil, dan kertas tissue gulung maupun lipat.  Kertas-kertas tersebut dipotong sesuai dengan kebutuhan dan sebelum digunakan disterilkan dalam oven dahulu.  Untuk uji TPT kertas-kertas yang telah dipotong dan disterilkan tersebut diatur dan disusun dalam bak perkecambahan dalam keadaan masih kering, sedangkan untuk uji BPT kertas yang sudah dipotong sesuai kebutuhan kemudian di-set, ditumpuk, dan direndam air bersih hingga basah rata, lalu di-press hingga tidak ada sisa air yang menetes lagi.



6.      Penyiapan Substrat Uji Pasir (Sand test)

Pasir yang akan digunakan disaring dulu dengan ayakan pasir ukuran 0,5 mesh kemudian disterilkan dalam steam boiler.  Pasir steril tersebut dimasukkan dalam bak perkecambahan menggunakan serok sebanyak ¾ ukuran bak, dilembabkan dengan sedikit air menggunakan shower (jangan terlalu banyak air, asal lembab saja), diratakan, lalu dibuat lubang tanamnya menggunakan alat pelubang dari kayu.  Untuk biji kecil saru bak perkecambahan dapat dibuat 2 x 100 lubang, sedangkan untuk biji besar satu bak perkecambahan hanya dibuat 1 x 100 lubang tanam.


7.      Penyiapan Benih

Pengujian daya berkecambah harus dilakukan pada benih yang berasal dari fraksi banih murni yang diperoleh dari analisis kemurnian benih.  Jumlah sample untuk uji daya berkecambah benih adalah 400 butir yang diambil dari benih murni.  Tiap ulangan dapat terdiri dari 100, 50, atau 25 butir tergantung dari jenis benih dan substrat yang digunakan.  Pada beberapa jenis benih yang baru dipanen ada yang mempunyai masa dormandi sehingga perlu perlakuan tertentu agar benih terbebas dari masa dormansi sehingga benih mau berkecambah.  Berikut ini adalah beberapa cara perlakuan benih yang dapat diberikan untuk mematahkan masa dormansi.

a.      Prechilling
Benih diletakkan pada substrat lembab dan disimpan pada suhu rendah.  Untuk benih hortikulturan paling lambat 10 hari pada suhu 5 – 10 ⁰C, sedangkan untuk benih tanaman keras pada suhu 3 – 5 ⁰C mulai 7 hari sampai 12 bulan.

b.      Predrying
Benih dipanaskan pada suhu 35 – 40 ⁰C selama 7 hari dengan diberi sirkulasi udara yang baik.

c.       Perlakuan dengan KNO3
Substrat dibasahi dengan 0,2 % KNO3 (2 gram /liter air)

d.      Perlakuan dengan Gibberelic acid(GA)
Substrat dibasahi dengan larutan GA3 0,05 % (500 mg GA / liter air).


8.      Penyemaian Benih

Benih yang telah disiapkan sejumlah 400 butir dari fraksi benih murni dapat langsung dikecambahkan pada substrat yang telah disiapkan.  Untuk uji TPT benih disemai sejumlah 100 butir/substrat yang terdiri dari 4 ulangan untuk setiap lot benih.  Dalam satu bak perkecambahan dapat digunakan untuk menyemai 3 lot benih.  Pada bak perkecambahan diberi identitas nomor lot, nama varietas, dan tanggal pengujian setiap lot benih.  Cara menyemai pada uji TPT dengan menggunakan alat penyemai dari plastic mika yang diberi lubang sebanyak 100 lubang dengan diameter lubang yang cukup untuk lewatnya benih cabe, tomat, terong, dan kelompok benih kecil lainnya.  Cara memasukkan benih ke lubang semai dengan menggunakan kuas kecil, bila terdapat lebih dari satu benih yang masuk ke dalam lubang dapat diambil menggunakan pinset yang ujungnya runcing.  Setelah 100 lubang semai terisi benih semua, kemudian secara hati-hati alat semai tersebut diangkat dan dipindahkan ke substrat lain yang belum terisi benih.

Untuk uji BPT setiap substrat dapat disemai 50 butir benih sehingga setiap ulangan digunakan 2 substrat, jadi setiap lot benih diperlukan 8 substrat.  Sedangkan untuk uji pasir setiap bak dapat disemai 2 – 100 butir untuk benih kecil dan 1 x 100 butir untuk benih besar.  Cara menyemai benih pada uji ini dapat menggunakan tangan, benih sejumlah 50 butir ditata secara teratur pada substrat dengan posisi selang-seling.

Cara menyemai pada uji pasir dengan meletakkan benih pada papan kayu yang ditumpangkan di atas bak perkecambahan, kemudian benih dimasukkan satu persatu ke dalam lubang tanam yang telah disiapkan pada substrat.  Bila ada benih yang jatuh ke dalam subang lebih dari satu maka segera diambil dengan pinset yang ujungnya runcing.


9.      Evaluasi Kecambah

Evaluasi kecambah dilakukan terhadap kecambah yang tumbuh dengan kondisi optimal.  Kecambah yang dievaluasi terbagi ke dalam 5 kategori berikut :

a.      Kecambah Normal
·         Kecambah dengan pertumbuhan sempurna, ditandai denga kara dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.
·         Kecambah dengan cacat ringan pada akar, hipokotil / epikotil, kotiledon, daun primer, dan kuleoptil.
·         Kecambah dengan infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurna.

b.      Kecambah Abnormal
·         Kecambah busuk ; ditandai dengan hilang atau rusaknya struktur penting kecambah,
·         Kecambah yang salah pertumbuhannya ;  misalnya terpilin ketat, geotrop negative, membentuk spiral, tumbuh di satu sisi saja.

c.       Benih Keras
·         Benih yang tetap keras sampai akhir jangka waktu pengujian yang telah ditetapkan.

d.      Benih Segar Tidak Tumbuh
·         Benih yang tidak tumbuh sampai akhir pengujian tetapi masing mempunyai kamampuan untuk tumbuh menjadi kecambah normal.  Benih jenis ini sebetulnya mampu menyerap air selama pengujian tetapi mengalai hambatan untuk proses perkembangan selanjutnya.

e.      Benih Mati
·         Benih yang pada akhir pengujian tidak keras atau segar tetapi lunak karena busuk atau berjamur dan sama sekali tidak menunjukkan unsure utama dari kecambah.




Tabel 1.  Hari pengamatan pengujian daya berkecambah pada berbagai jenis benih
NO
KOMODITAS
HARI PENGAMATAN
I
II
1
Cabe
6
12
2
Tomat
4
10
3
Terong
7
17
4
Bayam
4
8
5
Sawi / chaisin
4
6
6
Kacang panjang
3
5
7
Buncis
3 / 4
5 / 7
8
Paria
5
10
9
Kangkung
4
8
10
Mentimun
4
7
11
Melon
4
8
12
Semangka
4
8
13
Padi
5
14










10.  Perhitungan Daya Berkecambah

Daya berkecambah dihitung dengan cara jumlah benih yang berkecambah normal dibagi jumlah benih yang dikecambahkan dikalikan seratus persen.  Hasil pengujian daya berkecambah dinyatakan dalam persen dan ditulis dengan angka bulat yang terdiri dari kecambah normal, kecambah abnormal, benih keras, benih segar tidak tumbuh, dan benih mati.  Bilangan kurang dari 0,5 % dihilangkan atau dibulatkan ke bawah, sedangkan bilangan lebih dari 0,5 % dibulatkan ke atas.  Hasil pengujian tersebut dituliskan pada kolom pengujian.